Wednesday, January 27, 2021
Latihan Untuk (Berusaha) Ikhlas.
Friday, January 22, 2021
Bagaimana Membentuk Kebiasaan Baru
![]() |
| gerakan plank |
First we make our habits, then our habits make us. – Charles C. Noble
Untuk menjelaskan "hebatnya" kebiasaan, atasan menjelaskan dengan menggunakan kata habit. Ketika huruf "h"-nya dihilangkan masih ada "a bit". "A bit" ini masih ada maknanya. Kemudian kalau kita hilangkan huruf "a"-nya masih ada "bit". "Bit" ini pun masih ada maknanya. Kemudian kalau kita hilangkan huruf "b"-nya masih ada "it". "It" ini pun masih ada maknanya. Dan ketika kita hilangkan huruf "i"-nya maka tinggal huruf "t".
Jadi kebiasaan itu tidak mudah untuk dihilangkan, sekaligus tidak mudah membentuk sebuah kebiasaan baru. Ketika kita memulai kebiasaan baru, maka kita harus berubah. Perubahan itu tidak menyenangkan, seperti halnya orang yang biasa buang air besar di kloset jongkok, harus melakukannya di kloset duduk. Alhasil orang tersebut jongkok di kloset duduk.
Tuesday, December 8, 2020
Motivator dan Motivasi Ada di Mana-mana
Semasa kuliah menjelang akhir (yang tak berakhir-akhir alias lama lulus) saya dan teman-teman pernah membuah semacam lembaga training. Namanya Pentagon Training House. Seperti halnya lembaga training lainnya kami menjadi trainer dan menyediakan layanan training kepada teman-teman yang ada lembaga kampus seperti keluarga mahasiswa, himpunan dan rohis. Materi yang kami berikan pun beragam, karena latar belakang kami beragam, tergantung dari pada permintaan teman-teman. Istilah kerennya adalah palugada. Apa-apa lu minta gua ada. Dan bayarannya beragam juga. Mulai dari terima kasih, konsumsi satu kali makan dan uang. Terakhir kami pernah dibayar dengan angka yang cukup lumayan.
Monday, August 31, 2020
Belajar dari Pak Entis : Harga Sebuah Konsistensi
Dalam kehidupan sehari-hari ada orang yang begitu mudah diingat oleh orang lain dan ada yang tidak. Istilah saya adalah orang yang dari kesan pertama sudah menggoda dan orang yang mudah dilupakan begitu saja.
Untuk hal ini saya mengalaminya sendiri. Waktu masuk ITB, karena hanya bertiga dari SMA saya yang diterima, maka otomatis kami adalah new legal alien di kota kembang ini.
Thursday, July 23, 2020
Memecahkan Masalah : Saluran Air yang Mampat
Gambar saluran air yang hampir meluap |
Gambar saluran air setelah diangkat penyebat tersumbat |
Wednesday, February 12, 2020
Receh
Receh
Tidak perlu menjadi raja atau sultan
untuk menjadi bermanfaat
Bahkan menjadi ganjalan pintu dan kuping panci saja
sudah bermanfaat
Tidak perlu memadamkan kebakaran, atau menahan laju kereta datang.
Apalagi menghentikan rotasi bumi.
Cukup dengan tersenyum dan berkata baik,
kamu sudah ada gunanya.
Tidak perlu menjadi sesuatu untu berbuat sesuatu.
Sebaik-baiknya orang adalah orang yang paling bermanfaat.
Kamu bisa melakukan saat ini, dan dimulai dari hal-hal kecil.
sumber gambar : @candukata.id
Thursday, August 22, 2019
Mengumpulkan "Receh" Agar Masuk Surga
Ketika Pak Prabowo gagal memenangkan pemilihan presiden yang kedua kalinya, ada suara-suara yang berusaha"menghibur" dirinya. Kalau mau mengabdikan diri kepada bangsa dan negara tidak harus menjadi seorang presiden. Bisa berkontribusi dengan cara yang lain. Sampai di sini saya setuju.
Sekarang kita kembalikan kepada kita sebagai ciptaan-Nya. Manusia dan jin diciptakan hanya untuk beribadah kepada Alloh SWT. Itulah misi kita di dunia ini.
Wednesday, July 10, 2019
Kisah-kisah
Seorang siswa SMA diledekin teman-teman sepermainan di lingkungan rumahnya karena tidak pernah nongkrong dan begadang bareng. Dia dibilang tidak bermasyarakat, tidak bergaul tidak apalah. Siswa ini tidak pernah keluyuran karena bapaknya tidak pernah keluar malam-malam kalau tidak ada keperluan.
Seorang anak laki-laki sedang kangen dengan bapaknya yang belum pulang dari kerjanya di luar kota. Dia membersihkan lantai kamar mandi yang sudah terlihat kotor. Biasanya ayahnya suka membersihkan di akhir pekan. Membantu sang istri yang lima hari mengurus anak-anak dan rumahnya.
Setiap adzan subuh atau maghrib sang bapak langsung menghentikan aktivitasnya. Setelah itu dia mengambil wudhu di kamar mandi. Kalau sudah selesai dia baru menyuruh berwudhu dan terus mengajak sholat berjamaah di masjid.
Setiap selesai sholat maghrib, sang ibu membacakan buku ke anak-anaknya. Malah yang paling tua memilih dan membaca bukunya sendiri. Tak ada lagi gadget. Setelah membaca mereka langsung tidur karena mereka terbiasa untuk bangun pagi-pagi.
Kisah-kisah ini menginspirasi saya dan saya bertekad untuk mencontohnya.
Saturday, July 6, 2019
Apa Tujuannya?
sumber gambar : Geralt
Di Mana Ada Kemauan Di Situ Kita Membangun Jalan
Apakah ada cita-cita atau keinginan kita yang belum terwujud? Kalau belum, kemungkinannya ada dua. Pertama Alloh SWT mempunyai rencana yang lebih indah; menggantikannya yang lebih baik. Kedua ternyata kita memang enggak pengen-pengen amat.
Sekarang coba kita periksa hal-hal apa yang sudah kita lakukan untuk mencapainya? Jangan-jangan memang kita belum melakukan apa-apa, baru sebatas ingin dan berdoa saja (walau pun berdoa adalah hal yang baik juga). Kalau baru segini upayanya, maka kita harus maklum kalau belum terjadi apa-apa. Makanya ada yang memberi saran ungkapan "di mana ada kemaun di situ ada jalan" direvisi menjadi "di mana ada kemauan di situ kita membangun jalan". Jadi jalannya harus kita adakan, bukan hanya maunya.
Mencapai cita-cita; mewujudkan keinginan membutuhkan pengorbanan. Bisa itu mengeluarkan uang, meluangkan waktu, memeras tenaga dan fikiran.
Di dalam pekerjaan ada tools namanya 4 DX, The 4th disciplines of execution. Ini ada karena untuk menjawab permasalahan lemahnya eksekusi dari strategi. Bagusnya sebuah strategi tidak berarti apa-apa kalau tidak dieksekusi. Diciptakannya tools ini berarti banyak yang bermasalah dengan eksekusinya. Kabar gembiranya adalah ternyata kita tidak sendirian dalam masalah ini hehehe.
Kalau strategi dianggap sama dengan cita-cita atau keinginan, maka pendekatan tools 4DX bisa kita gunakan untuk mencapai cita-cita atau keinginan pribadi kita.
Di dalam 4DX ada empat bagian. Pertama tentukan Wildly Important Goal (WIG)-nya. Apa goal utamanya; cita-cita besar; keinginannya. Yang kedua tentukan lead measure-nya. Lead measure adalah tindakan yang bisa mengungkit/mencapai WIG-nya. Misal untuk WIG lulus Ujian Nasional, latihan soal sebanyak 50 buah Setiap hari. Untuk mencapai penjualan 100 juta, menghubungi 10 pelanggan baru Setiap hari. Untuk membuat novel, menulis minimal 200 kata setiap hari. Ketiga buat papan score board-nya. Papan score board ini untuk mengetahui progress pencapaian kita. Keempat melakukan WIG session. WIG session semacam menelaah dengan melihat score board di waktu dan tempat yang sama setiap pekan. Dari sini kita bisa menelaah sejauh mana pencapainnya. Sesuai dengan rencana atau tidak. Kalau ada yang sesuai, maka dilakukan inisiatif untuk mencapainya. Misal, dalam membuat novel jumlah tulisannya masih kurang karena ada kurangnya pengetahuan kita tentang lokasi jalannya cerita. Kita membuat inisiatif untuk mempelajarinya lokasi yang menjadi latar belakangnya.
Setelah bulan puasa ini saya punya keinginan ingin menambah hapalan bacaan Al-Quran. Jadi kalau sholat enggak mengandalkan kulhu sama kulya. Saya ralat sejujurnya bukan nambah tetapi mempunyai Hapalan, karena sebelumnya belum punya he saja hehe. Saya menargetkan hapal juz 30 akhir tahun ini. Kemudian lead measure-nya adalah menghapal 15 menit Setiap pagi. Ini juga sampai mereview sudah berapa surat yang dihapal. Memang saya akui, saya enggak sampai buat scoreboard untuk target ini. Alhamdulillah samapai sekarang sudah bertambah beberapa surat. Jadi kalau sholat sunah saya punya banyak pilihan untuk dibaca. Sejujurnya saya mengikuti 30 Hari Berkarya bertujuan menghasilkan sebuah karya tulisan. Karya tulisan ini adalah WIG-nya, menulis setiap hari minimal 200 kata adalah lead measure-nya, Melaporkan di groupWA 30 Hari Berkarya sebagai score board sekaligus WIG session. Mudah-mudahan bisa konsisten dan menjad sebuah karya beneran.
Saturday, November 24, 2018
Mengurangi Anak Main Gadget Tanpa Kekerasan
"Sebaiknya anak main gadget hanya sejam sehari." Jawab si pembicara. Yang mengisi adalah seorang praktisi pendidikan dan ahli parenting.
Jawaban nara sumber membuat tertegun sang penanya dan orang tua murid lainnya. Tak ada suara yang terdengar, semuanya sedang mengevaluasi anaknya masing - masing.
Memang saya akui sulit sekali untuk membatasi anak main gadget hanya satu jam sehari. Kalau langsung diterapkan begitu saja tanpa pengkondisian sebelumnya, hanya akan menimbulkan kegaduhan dengan anak. Sebab mereka merasa kesenangannya terganggu. Kalau sudah begini jangan harap anak mau melepaskan gadget-nya, yang ada malah ribut dengan anak. Namun bukan berarti kita harus menyerah sampai di sini.
Untuk membatasi pemakaian gadget pada anak ada beberapa tahap yang bisa diterapkan. Penerapannya bisa dilakukan bertahap; sedikit demi sedikit.
1. Buat sebuah aturan main mengenai pemakaian gadget di rumah. Misalnya main gadget hanya dilakukan di siang hari. Kalau sudah sholat maghrib maka tidak ada yang lain main gadget. Di sini mulai ada pembatasan, namun tidak langsung drastis. Si anak tidak merasa keberatan, tokh siangnya masih bisa main.
2. Berikan kegiatan alternatif sebagai pengganti main gadget. Mereka main gadget karena tidak ada kegiatan lain untuk mengisi waktu. Mengalihkan fokus anak jauh lebih baik dari pada melarangnya. Ini bisa kita lakukan dengan membaca buku, menggambar, bermain, beraktivitas di luar rumah, jalan-jalan dan lain sebagainya.
3. Orang tua harus memberikan contoh. Anak-anak hanya meniru apa yang dilihat di sekitarnya. Kalau kita sebagai orang tua ingin membatasi mereka main gadget, maka mulailah dari kita sendiri. Berdasarkan pengalaman, hanya gara-gara saya mengecek nomor kontak, anak saya yang sedang asyik bermain jadi ingin main gadget. Ketika seharian menahan diri untuk tidak menengoknya, mereka lebih mudah diajak untuk melakukan kegiatan yang lain. Nanti bagaimana kalau ada pesan yang masuk? Kalau memang penting, saya yakin ada telfon yang masuk. Jadi tenang sajalah.
4. Temani selagi anak-anak bermain gadget. Dengan ini kita bisa memastikan anak-anak melihat konten yang aman untuk mereka. Kemudian ajak mereka berdiskusi atas konten yang sedang mereka lihat.
Ini kalau konsisten dilakukan maka anak akan mengurangi main gadget sedikit demi sedikit. Diharapkan tumbuhnya kesadaran, bahwa main gadget itu boleh tapi ada batasannya.
Gerakan Setengah Gelas
Saya akan menjawab :"Air putih." Setelah itu saya akan segera menambahi, "Air putihnya setengah aja Mas."
Biasanya wajah sang pelayan akan berubah keheranan. Dia masih tidak bisa"menerima" pesanan seaneh itu.
"Sayang Mas, kalau enggak habis. Nanti terbuang. Kalau kurang kan, saya masih bisa minta lagi."
Setelah mendapat penjelasan tersebut, baru dia mengerti. Dan saya pun mendapatkan setengah gelas minuman saya.
Kebiasaan saya itu saya sebut dengan gerakan air minum setengah gelas. Gerakan ini dilatar belakangi oleh kebiasaan saya yang suka menyisakan minuman setelah makan. Sisa minuman itu akan dibuang begitu saja oleh pemilik warung. Bayangkan kalau ada sekian juta orang melakukan hal yang sama berapa banyak air yang terbuang. Belum lagi kalau dikaitkan dengan biaya yang terbuang.
Gerakan setengah gelas ini terinspirasi dari kegiatan 5R di tempat kerja saya. 5R adalah disiplin kerja untuk meningkatkan kecepatan, kualitas dan keamanan di tempat kerja. 5R terdiri dari Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin.
5R selalu dimulai dengan R yang pertama : ringkas. Ringkas adalah hanya yang diperlukan saja dan tidak berlebihan jumlahnya. Yang diperlukan adalah sesuatu yang ada hubungannya dengan pekerjaan kita saat ini. Kalau tidak ada hubungannya silahkan dikeluarkan dari area kerja kita. Bisa disimpan atau dibuang. Tergantung barang-barangnya. Kalau kumpulan kertas bekas yang sudah tidak terpakai silahkan dibuang. Kalau barang pribadi seperti fishbowl berisi ikan peliharaan, silahkan dibawa pulang. Kalau pekerjaan yang akan dikerjakan 3 bulan mendatang, simpan dulu di rak atau laci kita. Dan seterusnya.
Kalau kita terbiasa melakukannya, maka akan ini akan mempengaruhi pola fikir kita. Termasuk dalam hal-hal kecil. Kalau pada kasus saya, baru dalam memesan minum ketika makan.
"Pak Hasan, minumnya apa? Biasa air putih anget setengah gelas, ya."Kata Bu Dek tukang gado-gado langganan dekat kantor.
"Kenapa Mas? Tanya Rizki, teman kantor beda bagian. Disampingnya ada Pak Yusuf, atasannya.
""Sayang Mas, kalau enggak habis. Nanti terbuang. Kalau kurang kan, saya masih bisa minta lagi."Jawab saya.
"Kalau begitu, saya airnya setengah juga."Kata Rizki.
"Saya juga." Kata atasannya.









