Showing posts with label pekerjaan. Show all posts
Showing posts with label pekerjaan. Show all posts

Sunday, October 22, 2023

Menegur

Kata atasan saya menegur bawahan adalah termasuk pekerjaan (task) yang tidak enak. Kalau tidak percaya silahkan dicoba.

Yang membuat tidak enak karena harus menyampaikan fakta yang kemungkinan menyinggung atau tidak disukai oleh orang yang kita tegur. Apalagi masyarakat kita adalah masyarakat yang menjaga harmoni, yang tidak enakan dan saling diam-diaman kalau ada yang salah.

Menegur menjadi tidak enak karena konsepnya adalah menyampaikan tentang sesuatu hal yang kurang baik terkait dengan orang yang kita tegur, dengan kata lain menyampaikan kesalahan dan kekurangan dari orang tersebut.

Bagaimana kalau menegur itu diubah untuk memperbaiki seseorang atau membuat seseorang menjadi lebih baik. Kita sampaikan faktanya seperti itu dan diharapkan ini tidak terjadi lagi. Karena semangat ini maka kita berfokus kepada apa-nya dan bagaimana memecahkannya, bukan siapa-nya.

Tuesday, March 30, 2021

Yang Penting Berusaha. Sukses atau Gagal itu Hanya Hasil Akhir

 

Banyak Peran Orang Lain dan Hal Lainnya di Dalamnya.


Berhasil atau gagal itu hanya hasil akhir. Orang tidak lihat prosesnya.
Berhasil atau gagal itu hanya hasil akhir.

Pada suatu waktu ada seseorang yang memposting soal dirinya di situs linkedin. Dalam postingannya, dia pernah dikritik oleh koleganya bahwa dia adalah orang yang kaya pengalaman namun miskin prestasi. Karena di dalam curriculum vitae-nya dia tidak mencantumkan prestasi atau pencapaian selama bekerja.

Alasannya sederhana, namun dalam. Dia tidak pernah mencantumkan karena dia tidak mau mengklaim seluruh keberhasilannya itu semata-mata kerja keras dia seorang. Padahal ada peran orang lain dan tentunya Alloh SWT di belakang itu semua. Misalnya, dia pernah mencapai penjualan melebihi target yaitu 110%. Dia meragukan kalau itu hasil kerja kerasnya sendiri. Menurutnya ini merupakan hasil bersama-sama dengan kata lain banyak orang yang berkontribusi atas pencapaian ini.

Jadi, kita jangan cepat terpukau ketika membaca prestasi atau pencapaian orang di linkedin. Karena apa yang tertera di situ belum tentu menggambarkan keseluruhan kejadian yang sebenarnya. Bagaimana mungkin postingan dalam satu halaman di situs bisa menceritkan keseluruhan diri seseorang? Kalau membuat deskripsi singkat dan menarik pengunjung itu soal lain.

Thursday, February 11, 2021

Tuhan pun Mendatangkan Nabi

Meja yang rapih

Atasan saya pernah ngomong seperti ini kepada saya. Seorang atasan kalau tidak setuju, walau pun tidak ngomong, tidak akan pernah terwujud. Misalnya kita mengusulkan sebuah program, sebenarnya atasan kita tidak menyetujuinya. Namun karena tidak enak hati atau merasa kasihan kepada kita akhirnya dia pun menyetujui program tersebut. Jadi lain di mulut lain di hati. Karena pada dasarnya tidak setuju, program itu tidak pernah berjalan atau kejadian sama sekali, walau pun mulutnya mengatakan oke-oke saja.

Teman saya pernah mengalami hal seperti itu. Ketika pertamakali diterapkan program 5R di direktoranya, direkturnya setuju-setuju saja. Karena program itu memang program dari pusat jadi wajib sifatnya. Namun karena sang direktur itu belum memahami benar dan ada perbedaan persepsi mengenai 5R akhirnya program 5R di direktoratnya tidak berjalan dengan baik. Bayangkan itu saja yang berbeda persepsi, belum sampai menolak. Apalagi kalau menolak.

Thursday, January 21, 2021

Bukan Sekedar Diada-adakan

A leader is leading

 

Waktu mengikuti Executive Program Quality Management yang diampu oleh  Dr Kano , beliau mengajukan serangkaian pertanyaan kepada saya.

"Apakah perusahaan Anda ada masalah dengan penurunan penjualan?"

"Tidak ada."

"Apakah perusahaan Anda memiliki masalah produk?"

"Tidak ada."

"Kalau begitu, mengapa Anda menerapan TQM? Anda ini TQM lover!" Begitu pungkasnya.

Wednesday, September 30, 2020

Paragon dan Tukang Ojek



Ngomong-ngomong soal Paragon, ada yang tahu enggak kalau dulu itu Paragon namanya Pusaka Tradisi Ibu? Gara-gara nama ini orang suka mengira ini perusahaan obat, bukan perusahaan kosmetik. Karena kata-kata pusaka tradisi ibu-nya itu.

Saturday, July 4, 2020

Sedang Belajar "Selesai"

Beberapa bulan ini saya seperti kehilangan arti sebuah "selesai" ketika bekerja. Maksudnya adalah saya mengalami kesulitan untuk menyatakan apa-apa yang saya sedang kerjakan itu sudah selesai. Selalu ada saja yang kurang. Kurang ini, kurang itu. Bahkan ketika tenggatnya tiba.

Biasanya ini dialami untuk jenis pekerjaan yang konseptual, minim arahan dan hal yang baru.

Terus bagaimana saya come up dengan situasi seperti ini? 

Ada beberapa tips yang saya coba terapkan untuk mengatasinya:

1. Tentukan tenggatnya.
Ketika memulai pekerjaannya, saya menentukan tenggatnya. Baik tenggat dari pemberi kerja atau yang saya tentukan sendiri. Pokoknya, besok harus selesai.

2. Bagi menjadi kecil-kecil
Tugasnya ini dibagi menjadi kecil-kecil sampai bisa dieksekusi. Kalau melihat pekerjaan gelondongannya pasti stress dan bingung harus melakukan apa. Kalau melihat seperti ini, bagi pekerjanaan menjadi kecil-kecil. Dan tentunya setiap bagian kecil ini ditentukan kapan selesainya.
Misal : membuat frame work kerja baru. 

Saya bagi-bagi menjadi :
- Mencari referensi yang relevan.
- Mengambil point-point dari referensi
- Membuat draft (bisa dengan ATM Amati Tiru Modifikasi)

3. Berhenti dan bilang selesai!
Ini adalah yang terbaru. Kalau kedua hal sudah dikerjakan, maka saya akan berhenti. Saya akan kirim ke pemberi tugas. Ketika lintasan-lintasan fikiran ada yang masih kurang dan lain sebagainya saya tidak hiraukan. 

Apalagi kalau sudah merasa mentok; tidak tahu harus ngapain. Justru ketika kirim hasilnya, saya suka mendapatkan masukan-masukan yang membuka cakrawala berfikir saya. Ada sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh saya. Jadi ini bagus juga untuk progres pekerjaan saya. Sehingga kita bisa lebih maju lagi.

Coba bayangkan kalau kita tunda-tunda sampai sempurna. Hasilnya belum dikirim-kirim. Kita tidak akan mengalami kemajuan dalam pekerjaan. Tentunya jangan asal kirim.  

Kalau saya belajar (lagi) tentang selesai, ternyata banyak orang yang sudah mengatakan ini:

Continuous improvement better than delayed perfection (Mark Twain). 

Ada lebih baik dari tidak ada (atasan saya sering ngomong ini)

Selesai tidak selesai harap segera dikumpulkan, nah kalau ini guru pengawas ujian!

Wednesday, March 4, 2020

Deming Tidak Pernah Mengakui Siklus PDCA


Siklus PDCA, plan - do - check - act. Buat yang tempat bekerjanya menerapkan Total Quality Management (TQM) pasti familiar dengan siklus yang satu ini. Siklus ini digunakan ketika kita sedang melakukan improvement yang disebabkan oleh adanya gap antara ideal condition dengan current condition, penyimpangan terhadap standar yang ada dan adanya kebutuhan pelanggan yang tidak terpenuhi.

Kadang-kadang siklus PDCA disebut juga Siklus Deming. Ini merujuk nama ahli kualitasjuga ahli statistik dari Amerika Serikat, Edward W. Deming yang pada tahun 50-an membantu Jepang bangkit dari keterpurukan setelah kalah perang. Dia mengajarkan dasar-dasar kualitas kepada orang-orang Jepang dalam membangun industrinya.

Tapi apakah pembaca tahu kalau Deming menolak kalau siklus PDCA itu adalah siklus Deming? Berdasarkan referensi yang saya baca sampai akhir hayatnya dia tidak mengakui kalau siklus PDCA ini adalah siklus Deming. Nah kalau faktanya seperti ini, sebenarnya apa yang diajarkan Deming kepada orang-orang Jepang tersebut?

Monday, February 10, 2020

Atas Pertolongan-Nya


Setiap kali ditanya apa rahasianya dalam membesarkan perusahaannya, Bu Nurhayati Subakat, pemilik  Wardah Cosmetic, selalu menjawab : atas pertolongan Alloh SWT.

Pada awalnya saya tidak pernah paham atas pernyataan Ibu Nur ini. Mengapa beliau sampai mengatakan seperti ini? Padahal, saya sebagai karyawannya, tahu sekali bagaimana etos kerja Ibu Nur dan sekeluarganya. Boleh dibilang mereka bekerja 24 jam selama 7 hari. Tidak ada pembicaraan yang tidak membahas masalah pekerjaan atau pun perusahaan. Waktu makan malam di meja membicarakan perusahaan, waktu selama perjalanan membicarakan pekerjaan apalagi waktu di kantor pasti membicarakan soal pekerjaan. Jadi menurut saya wajar sekali kalau mereka sukses karena mereka memang benar-benar bekerja keras.

Kemudian pencerahan mulai muncul. Ketika profil Bu Nur sekeluarga dan wardah-nya dibahas oleh Dahlan Iskan di situsnya. Beliau mengatakan bahwa apa yang dilakukan Bu Nur adalah kebetulan yang diusahakan. Memang semua kesuksesan yang diraihnya berasal dari pertolongan-Nya, namun Ibu Nur telah mengusahakannya agar Alloh SWT menolongnya.