Showing posts with label kisah gua mau tahu?. Show all posts
Showing posts with label kisah gua mau tahu?. Show all posts

Friday, November 20, 2020

Dengan Hewan Peliharaan Membuatmu Bersyukur Sebagai Manusia



"Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja" - HAMKA

Sejak memelihara seekor kucing jantan, yang diperoleh dari mengadopsi dari seseorang yang belum dikenal, membuat saya bersyukur menjadi seorang manusia. Karena dengan mengamati tingkah laku sehari-harinya ternyata ada perbedaan yang jelas antara manusia dan seekor binatang.

Sunday, November 8, 2020

Ketika Lapangan Tidak Seindah Rencana



Saya pernah mengerjakan relayout ruangan selama bekerja di tempat saya bekerja sekarang. Relayotu karena ada departemen yang pindah ke ruangan baru, relayout karena penambahan staff dan lain sebagainya. Dari pekerjaan ini saya mendapatkan sebuah pembelajaran yang menarik. Kalau melihat di kertas lay out ruangan terasa luas, namun ketika dipraktekkan ke lapangan terasa sempit. Ternyata di lapangan tidak seindah rencana. Malah pernah kejadian harusnya di area tersebut bisa muat satu meja, ternyata tidak. Kalau mau harus dengan meja yang lebih kecil ukurannya. Padahal waktu merancangnya sudah berdasarkan gambar lay out perusahaan. Jadi tidak asal-asalan.

Tuesday, September 29, 2020

Apapun Masalahnya, Alloh SWT Tempat Mengadu



Apa yang telah orang tua saya ajarkan kepada anaka-anaknya? Saya dengan pasti menjawab mereka mengajarkan bagaimana menyerahkan hidup ini hanya kepada Alloh SWT, Tuhan semesta alam. Mereka mendemonstrasikan bahwa dalam menghadapi semua problematika hidup, Alloh-lah tempat meminta dan memohon pertolongan. Tidak ada yang lain.

Tuesday, March 17, 2020

Kuliah Salah Jurusan, Apa Yang Harus Dilakukan



seorang laki-laki adalah, menyelesaikan apa-apa yang sudah dia mulai

Masa-masa kuliah adalah masa-masa yang paling indah memberikan kesan tersendiri di hati saya. Sampai-sampai ini menjadi indikator kalau saya sedang stress. Saya akan bermimpi masa-masa kuliah saya ini. Saya membutuhkan waktu enam tahun dari standar empat tahun untuk merampungkan masa kuliah saya.

Saya kuliah di jurusan kimia di sebuah perguruan tinggi negeri di kota Bandung. Yang membuat kuliah saya lama adalah saya membutuhkan waktu dua tahun untuk mengerjakan tugas akhir (TA) dan mengulang beberapa mata kuliah. Dan saya adalah lulusan ketiga dari belakang di angkatan saya.

Mengapa saya bisa lama untuk menuntaskannya? Kalau dirunut-runut lagi penyebabnya adalah bahwa kuliah di jurusan kimia ini ternyata tidak sesuai dengan bakat dan minat saya. Berdasarkan hasil psikotes waktu di SMA, saya disarankan untuk mengambil ilmu sosial budaya dan komunikasi. Bahkan kalau saya berkecimpung di sana, saya bisa mengambil jenjang sampai S3.

Wednesday, August 21, 2019

Terpenjara Dalam Apartemen


Pada hari sabtu minggu pekan lalu, saya sempat merasakan menginap di sebuah apartemen di daerah Bandung Utara. Kegiatan ini bertepatan dengan acara kumpul-kumpul keluarga besar dari pihak istri.

Selama beraktivitas di sana, sempat terlintas dalam fikiran bahwa orang-orang yang tinggal di sana seperti "terperangkap" di dalamnya. Kenapa saya bisa berkesimpulan seperti itu? karena kami sempat tersesat di dalamnya. Ya benar-benar tersesat.

Keluarga besar menyewa dua unit di apartemen. Kamar di lantai 10 dan kamar di lantai 15. Setiap kamar memiliki kunci dan kartu akses kemana-mana. Saya mendapatkan jatah di kamar 15. Setelah saya beres-beres di kamar lantai 15, kami berniat ke kamar di lantai 10. Karena sebagian besar anggota keluarga berkumpul di sana. Antara lantai dihubungkan dengan sebuah lift. Dari lantai 15 kami naik lift turun ke bawah. Ketika memencet lantai 10 kami tidak berhasil. Berkali-kali kami pijit tombolnya dan menempelkan kartu aksesnya, lift tetap bergerak. Ketika lift berhenti di lantai 5, karena ada yang keluar di sana, kami ikut-ikutan keluar. Dan ternyata timbul masalah baru. Kami benar-benar tidak bisa kemana-mana. Di tengah kebingungan akhirnya kami memutuskan untuk lantai G (ground). Seorang penghuni apartemen mengajak kami ke lantai ground. Karena dia juga mau ke sana. Alhamdulillah, masih ada orang baik ternyata.

Tuesday, August 13, 2019

Ada Band"




untuk istriku

Dari sekian band yang mengusung lagu "cinta-cinta" mungkin hanya Ada Band yang masih saya mau dengar. Padahal sedari SMP saya selalu mengidentikan diri dengan lagu yang "keras-keras", apalagi masa remaja saya dihabiskan di era 90-an dimana sedang subur-suburnya alternative music dan grungem (Lu tahu sendiri kan kerennya musik-musik zaman ini). Namun untuk ada band, masih ada ruang di telinga saya.

Tuesday, July 16, 2019

Karena Cinta Melebihi Segalanya


Sebelum menikah saya dan (calon) istri membuat sebuah perjanjian untuk kami berdua kalau menikah nanti. Saya mensyaratkan kalau sudah menikah, istri harus mengikuti kemana suami bertugas/ bekerja. Dia menyanggupinya. Dia bersedia untuk meninggalkan kota kelahirannya untuk ikut suami. Dia pun mengajukan syarat. Kalau sudah menikah dia tetap ingin bekerja. Dia menyukai dunia ajar-mengajar. Saya pun mengizinkannya. Karena pekerjaan yang dilakoninya tidak membutuhkan waktu penuh. Kami pun saling setuju.

Setelah itu awal-awal tahun pernikahan kami menjalani sesuai perjanjian. Istri ikut suami dan dia tetap mengajar. Semuanya berubah ketika kami dianugerahi seorang anak laki-laki yang sudah lama kami nanti-nantikan kehadirannya. Karena satu dan lain hal makan "bubarlah" perjanjian yang sudah kami sepakati. Kami menjalani long distance marriage (LDM). Dari empat belas tahun pernikahan, hanya tiga tahun kami hidup serumah dan bertemu setiap hari. Selebihnya kami terpisah antara kota yang berbeda. Dan benar istri saya sudah tidak bekerja karena mengurus anak. 

Faktanya, perjanjian kami sudah batal. Semuanya berjalan tidak sesuai kesepakatan. Kemudian apakah kami saling menggungat satu sama lain? Saling mempertanyakan : katanya dulu begini, kok sekarang begitu? Tidak sama sekali. Karena kondisinya memang jauh berbeda dari bayangan kami sebelumnya maka kami membuat kesepakatan baru. Untuk saat ini, yang terbaik adalah memang seperti ini sambil kami terus-menerus mencari jalan yang lebih baik. Kami melakukan ini karena cinta melebihi segalanya.

sumber gambar : Pexel


Saturday, July 13, 2019

Mimpi Buruk

Apa mimpi terburuk Lu? Mimpi terburuk gua adalah kuliah. Biar enggak salah pengertian gua ulangi. Kalau lagi ada masalah yang berat biasanya gua mimpi buruk dan mimpi buruknya adalah mimpi waktu kuliah.

Di dalam mimpi gua harus mengulang beberapa mata kuliah. Belum mengerjakan ini, belum mengerjakan itu. Intinya semua serba ketinggalan dengan teman-teman yang lain. Dan lucunya di ujung mimpi gua suka tersadar : Gua kan udah lulus kuliah. Oh ini mimpi. Dan langsung perasaan gua menjadi tenang. Dan ini masih dalam keadaan mimpi.

Pertanyaannya adalah mengapa mimpi sedang kuliah itu menjadi pertanda kalau sedang ada "sesuatu"? Mungkin kalau boleh jujur, kuliah adalah salah satu fase kehidupan gua yang cukup berat. Membutuhkan waktu enam tahun untuk menyelesaikannya dengan predikat lulus ketiga dari belakang di angkatan gua he he he. Kalau pengen tahu dua orang yang lulus setelah gua, silahkan japri ya. Dan kondisi ini semakin memperkuat pameo orang kuliah di ITB : masuknya susah, keluarnya jauh lebih susah. Karena kondisi, mungkin berkesan sampai ke alam sadar sehingga kalau lagi ada yang susah-susah munculnya mimpi ini.

Terus apa yang membuat kuliah gua terasa susah? Hmmm...kalau mau ditarik lebih mendasarnya adalah bahwa "bakat" gua itu bukan di ilmu-ilmu pasti. Karena gua ingat banget pas psikotes di SMA pendidikan yang disarankan adalah ilmu-ilmu sosial. Cuma namanya arogansi pribadi waktu itu bahwa kelas IPA bisa kemana-mana (baca bisa ambil IPC ketika UMPTN) dibandingkan non IPA. Setelah dari sini ada sebuah kesadaran semua disiplin ilmu sama pentingnya dan ada tempatnya masing-masing. Tidak ada yang superior terhadap yang lain. Dan gua juga jadi percaya sama hasil psikotes. Jad pas kuliah itu, terasa sekali kemampuan "mentok" dan tidak bisa berkambang kemana-mana. Tapi yang terpenting adalah gua sudah bisa melalui semua itu dengan selamat tanpa kurang sesuatu apa pun.




Thursday, July 11, 2019

Prosedur Mencari Jodoh Tanpa Pacaran

Di dalam mencari calon istri, saya tidak mau mencari sendiri. Karena saya khawatir kalau mencari sendiri, yang lebih berperan adalah mata lahir, bukan mata bathin saya. Apalagi istri ini untuk dijadikan teman pendamping seumur hidup. Kalau salah mendapatkan bisa berabe. 

Makanya ketika saya memutuskan menikah saya memakai jalur ta'aruf tidak jalan yang lain. Prosedurnya adalah sebagai berikut. Pertama-tama saya mendatangi seorang ustadz yang saya percayai. Kemudian saya menyerahkan curiculum vitae diri saya di mana di dalamnya terdapat kriteria istri yang diidam-idamkan.

Tak lama kemudian, saya mendapatkan sebuah amplop yang berisi biodata seorang perempuan. Saya disuruhnya untuk melaksanakan sholat istikharah memohon petunjuk. Namun setelah berkali-kali sholat istikharah, saya tidak mendapatkan tanda-tanda apa pun. Apakah itu tanda-tanda alam atau yang lainnya. Kalau bahasa Pak Yohanes Surya, semesta tidak mendukung. Sempat dalam hati terselip pertanyaan : apakah saya tidak berjodoh dengan si dia?

Karena penasaran akhirnya saya mendatangi ustadz yang saya percaya ini. Saya utarakan isi hati saya. Sudah berkali-kali menunaikan sholat istikahrah, tetapi belum ada tanda-tanda yang menguatkan bahwa nama di dalam amplop ini tercipta untuk saya. Karena saya ingat betul penjelasan guru agama saya waktu SMA, kalau seseorang itu jodoh kita itu ada tanda-tandanya. Entah itu lewat mimpi atau tanda-tanda lainnya. Nah, sampai sejauh ini saya belum mendapatkan tanda-tanda tersebut.

Awalnya saya mengira, sang ustadz ini akan menenangkan perasaan saya. Tapi ternyata tidak. Dia malah menegur saya agak keras.
"Ente kalau memang dia jodoh, pasti akan sampai ke pernikahan. Pasti akan ada janur kuning melengkung nantinya. Kalau bukan jodoh Ente pasti enggak bakalan jadi menikah."
"Oh begitu."Jujur saya agak kaget mendengar penjelasannya.
"Bagaimana? Mau lanjut prosesnya?"
"Lanjut ustadz!"Jawab saya mantap.

Dan benar akhirnya singkat kata, saya menikah dengan perempuan ini. Menjadi istri dan anak-anak saya. Saya juga teringat ada ceritanya kawannya kawan yang berkali-kali gagal menikah. Kalau memang bukan jodoh memang ada penghambatnya. Kalau yang ini gagalnya disebabkan oleh mobil yang mogok di perjalanan. Akibatnya datang telat ke rumah calon mempelai wanita. Ketika dia datang, calon mertuanya marah-marah dan membatalkan rencana pernikahan.

Namun selain itu dari proses pernikahan saya ini, saya mendapatkan insight yang lain. Bahwa dalam melaksanakan cita-cita; mempunyai hajat jangan hanya mengandalkan doa kepada Alloh SWT semata, tetapi harus ada upayanya. Kita hanya wajib berusaha dan biar Alloh SWT yang menentukan. Demikian.

Monday, June 24, 2019

Cara Diterima Kerja


Bagi sebagian orang adalah sebuah keanehan kalau seorang lulusan sarjana kimia bekerja di bidang sumber daya manusia. Kalau saya ditanya orang kerja di bagian apa dan menjawabnya dengan menyebutkan di bagian HRD, kemungkinan besar sang penanya melontarkan pertanyaan susulan :

"Kok bisa ya kerja di HRD?"
"Pasti bisa. Dulu waktu kuliah saya mempelajari ikatan antara atom dan struktur. Nah sekarang saya bekerja di bagian Organization Development yang menguruis masalah struktur organisasi. Jadi saya fikir masih nyambung sama pekerjaan sekarang." Sejujurnya ini jawaban asal. Sampai saat ini saya belum mendapatkan jawabann yang tepat, mengapa seorang sarjana kimia bisa bekerja di HRD.

Saturday, November 24, 2018

Mengurangi Anak Main Gadget Tanpa Kekerasan

"Bu, berapa lama anak boleh main gadget setiap harinya?"Tanya seorang bapak dalam sebuah forum orang tua murid di sekolah. Pada pertemuan kali ini dibahas bahaya gadget bagi anak-anak.
"Sebaiknya anak main gadget hanya sejam sehari." Jawab si pembicara. Yang mengisi adalah seorang praktisi pendidikan dan ahli parenting.

Jawaban nara sumber membuat tertegun sang penanya dan orang tua murid lainnya. Tak ada suara yang terdengar, semuanya sedang mengevaluasi anaknya masing - masing.

Memang saya akui sulit sekali untuk membatasi anak main gadget hanya satu jam sehari. Kalau langsung diterapkan begitu saja tanpa pengkondisian sebelumnya, hanya akan menimbulkan kegaduhan dengan anak. Sebab mereka merasa kesenangannya terganggu. Kalau sudah begini jangan harap anak mau melepaskan gadget-nya, yang ada malah ribut dengan anak. Namun bukan berarti kita harus menyerah sampai di sini.

Untuk membatasi pemakaian gadget pada anak ada beberapa tahap yang bisa diterapkan. Penerapannya bisa dilakukan bertahap; sedikit demi sedikit.

1. Buat sebuah aturan main mengenai pemakaian gadget di rumah. Misalnya  main gadget hanya dilakukan di siang hari. Kalau sudah sholat maghrib maka tidak ada yang lain main gadget. Di sini mulai ada pembatasan, namun tidak langsung drastis. Si anak tidak merasa keberatan, tokh siangnya masih bisa main.

2. Berikan kegiatan alternatif sebagai pengganti main gadget. Mereka main gadget karena tidak ada kegiatan lain untuk mengisi waktu. Mengalihkan fokus anak jauh lebih baik dari pada melarangnya. Ini bisa kita lakukan dengan membaca buku, menggambar, bermain, beraktivitas di luar rumah, jalan-jalan dan lain sebagainya.

3. Orang tua harus memberikan contoh. Anak-anak hanya meniru apa yang dilihat di sekitarnya. Kalau kita sebagai orang tua ingin membatasi mereka main gadget, maka mulailah dari kita sendiri. Berdasarkan pengalaman, hanya gara-gara saya mengecek nomor kontak, anak saya yang sedang asyik bermain jadi ingin main gadget. Ketika seharian menahan diri untuk tidak menengoknya, mereka lebih mudah diajak untuk melakukan kegiatan yang lain. Nanti bagaimana kalau ada pesan yang masuk? Kalau memang penting, saya yakin ada telfon yang masuk. Jadi tenang sajalah.

4. Temani selagi anak-anak bermain gadget. Dengan ini kita bisa memastikan anak-anak melihat konten yang aman untuk mereka. Kemudian ajak mereka berdiskusi atas konten yang sedang mereka lihat.

Ini kalau konsisten dilakukan maka anak akan mengurangi main gadget sedikit demi sedikit. Diharapkan tumbuhnya kesadaran, bahwa main gadget itu boleh tapi ada batasannya.



Gerakan Setengah Gelas

Kalau kebetulan makan di luar (rumah), setelah memesan makanan biasanya akan ditanya : "Minumnya apa Mas?"
Saya akan menjawab :"Air putih." Setelah itu saya akan segera menambahi, "Air putihnya setengah aja Mas."
Biasanya wajah sang pelayan akan berubah keheranan. Dia masih tidak bisa"menerima" pesanan seaneh itu.
"Sayang Mas, kalau enggak habis. Nanti terbuang. Kalau kurang kan, saya masih bisa minta lagi."
Setelah mendapat penjelasan tersebut, baru dia mengerti. Dan saya pun mendapatkan  setengah gelas minuman saya.

Kebiasaan saya itu saya sebut dengan gerakan air minum setengah gelas. Gerakan ini dilatar belakangi oleh kebiasaan saya yang suka menyisakan minuman setelah makan. Sisa minuman itu akan dibuang begitu saja oleh pemilik warung. Bayangkan kalau ada sekian juta orang melakukan hal yang sama berapa banyak air yang terbuang. Belum lagi kalau dikaitkan dengan biaya yang terbuang.

Gerakan setengah gelas ini terinspirasi dari kegiatan 5R di tempat kerja saya. 5R adalah disiplin kerja untuk meningkatkan kecepatan, kualitas dan keamanan di tempat kerja. 5R terdiri dari Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin.

5R selalu dimulai dengan R yang pertama : ringkas. Ringkas adalah hanya yang diperlukan saja dan tidak berlebihan jumlahnya. Yang diperlukan adalah sesuatu yang ada hubungannya dengan pekerjaan kita saat ini. Kalau tidak ada hubungannya silahkan dikeluarkan dari area kerja kita. Bisa disimpan atau dibuang. Tergantung barang-barangnya. Kalau kumpulan kertas bekas yang sudah tidak terpakai silahkan dibuang. Kalau barang pribadi seperti fishbowl berisi ikan peliharaan, silahkan dibawa pulang.  Kalau pekerjaan yang akan dikerjakan 3 bulan mendatang, simpan dulu di rak atau laci kita. Dan seterusnya.

Kalau kita terbiasa melakukannya, maka akan ini akan mempengaruhi pola fikir kita. Termasuk dalam hal-hal kecil. Kalau pada kasus saya, baru dalam memesan minum ketika makan.

"Pak Hasan, minumnya apa? Biasa air putih anget setengah gelas, ya."Kata Bu Dek tukang gado-gado langganan dekat kantor.
"Kenapa Mas? Tanya Rizki, teman kantor beda bagian. Disampingnya ada Pak Yusuf, atasannya.
""Sayang Mas, kalau enggak habis. Nanti terbuang. Kalau kurang kan, saya masih bisa minta lagi."Jawab saya.
"Kalau begitu, saya airnya setengah juga."Kata Rizki.
"Saya juga." Kata atasannya.

Sunday, October 7, 2018

Jangan Membatasi Rejeki Dengan Gaji

Kalau sudah ngobrolin masalah compensation and benefit dari perusahaan, biasanya saya tidak ambil bagian. Paling banter hanya senyum-senyum saja. Melihat saya "biasa-biasa" saja ada yang berani bertanya :"Kalau Pak Hasan, gajinya cukup ya?"
Saya hanya tertawa. Biasanya saya langsung menjawab: "Jangan membatasi rejeki dengan gaji."

Ya, kita jangan pernah membatasi rejeki kita dengan gaji yang kita terima setiap bulannya. Padahal rejeki itu luas sekali, dan tidak hanya berasal dari dimana tempat kita bekerja.

Sebelum bicara lebih lanjut, saya akan sertakan  "Nasihat keberkahan gaji oleh Imam Syafii"
Nasehat Imam Syafi'i Agar Uang Gaji / Honor Menjadi Berkah

Seorang laki-laki datang kepada Imam al-Syafi’i radhiyallaahu ‘anhu mengeluhkan kondisi ekonominya yang begitu sempit. Gajinya sebagai buruh dengan upah 5 dirham tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Mendengar keluhan laki-laki itu, Imam al-Syafi’i memberinya nasihat supaya mendatangi majikannya dan memintanya untuk menurunkan gajinya menjadi 4 Dirham. Karena kepercayaanya kepada Imam Syafi’I laki-laki itu mengikuti saran sang Imam. Meskipun ia tidak mengerti apa maksud saran tersebut.

Selang beberapa waktu, laki-laki itu datang lagi. Dia masih mengeluhkan kondisi ekonominya yang masih susah. Lalu Imam al-Syafi’i memberinya saran agar mendatangi majikannya dan memintanya untuk mengurangi upah kerjanya menjadi 3 dirham. Laki-laki itu pergi melakukan saran Imam al-Syafi’i dengan heran karena tidak mengerti maksud saran Imam Syafi’i.

Beberapa waktu berlalu, laki-laki itu datang lagi dan mengucapkan terima kasih atas nasehat dan saran yang sebelumnya diberikan Imam Syafi’i. Dia mengatakan, ternyata 3 dirham dapat memenuhi semua kebutuhannya. Bahkan setelah itu hartanya menjadi melimpah.
Kemudian laki-laki itu bertanya tentang maksud saran dan nasehat al-Syafi’i yang selama ini diberikan.

Imam Syafi’i menjelaskan, bahwa beliau melihat kerja laki-laki itu kepada majikannya hanya layak diupah 3 dirham. Sedangkan selebihnya 2 dirham telah mencabut keberkahan upah yang diterimanya ketika bercampur dengan 3 dirham tersebut. Lalu al-Syafi’i bersyair:

ﺟُﻤِﻊَ ﺍﻟْﺤَﺮَﺍﻡُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟْﺤَﻼَﻝِ ﻟِﻴُﻜْﺜِﺮَﻩْ  #  ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺤَﺮَﺍﻡُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟْﺤَﻼَﻝِ ﻓَﺒَﻌْﺜَﺮَﻩْ

Harta yang haram dikumpulkan pada yang halal agar menjadi banyak

Ternyata masuknya harta haram pada yang halal, justru menghancurkannya

Kisah di atas sangat bisa menjadi renungan bagi kita. Harta melimpah yang kita peroleh, kalau tidak sesuai dengan jasa dan pelayanan yang kita berikan, justru tidak berkah dan merusak kehidupan kita.

Sebaliknya, harta sedikit yang kita peroleh, apabila sesuai dengan jasa yang seharusnya kita terima, justru berkah dan menjadikan harta seseorang melimpah. Semoga kita mendapatkan harta yang berkah dan melimpah. Amin.


Nasehat dari Imam Syafii begitu berkesan buat saya. Pernah pada suatu masa, gaji yang saya terima tidak mencukupi. Waktu itu kondisi perusahaan masih dalam "perjuangan 45 merebut kemerdekaan". Suatu hari saya menanyakan kepada istri : apakah bisa menabunng setiap bulan? Istri tidak langsung menjawab. Bak Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan kondisi keuangan negara, dia membeberkan perincian pengeluaran setiap bulannya. Semua pengeluaran jelas rimbanya. Tidak belanja yang tidak masuk akal. Tidak biaya yang dikeluarkan hanya untuk jalan-jalan atau makan di luar.

Melihat laporan keuangan, saya hanya terdiam dan menerima faktanya. Ya sudah kita terima kondisinya. Pada saat itu, memang benar-benar tidak bisa menabung, malah yang ada tabungan kami ikut tergerus untuk keperluan tertentu. Di saat itu fikiran saya bingung untuk biaya sekolah anak saya di awal tahun ajaran baru. Uang dari mana untuk membayarnya?

Sebulan mau tahun ajaran baru, tiba-tiba ada berita gembira. Saudara saya yang tinggal jauh memberikan bantuan uang tanpa syarat apa-apa. Jumlahnya sebesar biaya sekolah anak saya. Alhamdulillah, jadi bisa sekolah anak saya. Untuk sementara biaya anak sekolah saya teratasi. Setidaknya untuk semester ini. Semeseter berikutnya kita fikiran nanti saja.

Dan ternyata, ketika kondisi keuangan kami masih begitu-begitu saja, bantuan dari saudara saya tetap diberikan setiap menjelang anak saya mau sekolah. Benar-benar sudah ada yang mengatur. Kejadian ini berlangsung beberapa tahun.

Pada satu masa, ketika kondisi perusahaan membaik. Ada kenaikan di slip gaji saya. Saya bisa menabung untuk biaya anak sekolah. Dan coba tebak apa kabar berikutnya? Saudara saya ini tidak memberikan bantuan lagi. Jadi benar-benar pas. Dia menghentikan "bantuan" ini bukan karena karena tahu saya mengalami kenaikan gaji. Hmmmm.

Jadi kesimpulannya adalah kalau memang kita layak dibayar 10, walau pun tempat bekerja baru kasih 8, maka Alloh akan memberikan 10. Dan sebaliknya kalau kita hanya layak dibayar 8, walau atasan kasih 10 maka akan banyak jalan dimana yang 2 itu akan pergi.

"Mas, bagaimana kalau tulisan ini dijadikan dasar atasan saya membayar rendah? Kan rejeki Alloh yang ngatur. Kamu saya bayar kecil. Sisanya dari Alloh." Begitu kira-kira.

Rejeki itu urusan Alloh. Kalau seorang pemilik usaha membayar tidak sesuai haknya, itu urusan dia sama Alloh juga.