Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Tuesday, February 2, 2021

Kebijaksanaan Berasal dari Yang Satu, Kembali ke Yang Satu


Kebijaksanaan Ada di Mana-mana

Seorang murid datang menemui gurunya. Dengan wajah tertunduk sepasang bola mata bergerak dengan tatapn kosong. Mulutnya seperti komat-kamit. Sang guru hanya terdiam tanpa berkata apa-apa.

"Guru, saya dalam kebingungan."Akhirnya meluncur juga kata-kata dari mulutnya.

"Apa yang membuatmu bingung, anakku?"

"Saya bingung dengan banyaknya kebijaksanaan yang bertebaran di mana-mana."

"Lalu?"

Thursday, July 23, 2020

Memecahkan Masalah : Saluran Air yang Mampat

Saluran Air yang Mampat
Gambar saluran air yang hampir meluap
Saluran Setelah Dibersihkan yang Menjadi Penyumbatnya
Gambar saluran air setelah diangkat penyebat tersumbat


Sedang asyik-asyiknya bersih-bersih terdengar komentar seorang anak."Itu ada yang bocor," begitu katanya yang berlalu bersama angin. Ia sedang berkendara, membonceng ibunya.

Buru-buru saya berlari ke jalan samping rumah saya. Permukaannya basah. Dalam pikiran saya terbersit, kemungkian ada orang yang sedang cuci motor atau mobil di dekat situ. Permukaan yang basah disebabkan oleh air sisa pencuciannya.

Pikiran saya itu masih asumsi. Perlu diuji kebenarannya. Saya pun mencari buktinya. Ternyata di sekitar situ tidak ada yang sedang mencuci kendaraan. 

Perhatian saya tertuju ke saluran air yang  memanjang menuju jalan samping rumah saya. Saluran air dan jalan membentuk huruf "T". Saluran itu membawa air buangan domestik dari rumahnya.

Setelah saya lihat benar. Saluran airnya penuh dengan air. Malah hampir bocor.

Wednesday, August 21, 2019

Terpenjara Dalam Apartemen


Pada hari sabtu minggu pekan lalu, saya sempat merasakan menginap di sebuah apartemen di daerah Bandung Utara. Kegiatan ini bertepatan dengan acara kumpul-kumpul keluarga besar dari pihak istri.

Selama beraktivitas di sana, sempat terlintas dalam fikiran bahwa orang-orang yang tinggal di sana seperti "terperangkap" di dalamnya. Kenapa saya bisa berkesimpulan seperti itu? karena kami sempat tersesat di dalamnya. Ya benar-benar tersesat.

Keluarga besar menyewa dua unit di apartemen. Kamar di lantai 10 dan kamar di lantai 15. Setiap kamar memiliki kunci dan kartu akses kemana-mana. Saya mendapatkan jatah di kamar 15. Setelah saya beres-beres di kamar lantai 15, kami berniat ke kamar di lantai 10. Karena sebagian besar anggota keluarga berkumpul di sana. Antara lantai dihubungkan dengan sebuah lift. Dari lantai 15 kami naik lift turun ke bawah. Ketika memencet lantai 10 kami tidak berhasil. Berkali-kali kami pijit tombolnya dan menempelkan kartu aksesnya, lift tetap bergerak. Ketika lift berhenti di lantai 5, karena ada yang keluar di sana, kami ikut-ikutan keluar. Dan ternyata timbul masalah baru. Kami benar-benar tidak bisa kemana-mana. Di tengah kebingungan akhirnya kami memutuskan untuk lantai G (ground). Seorang penghuni apartemen mengajak kami ke lantai ground. Karena dia juga mau ke sana. Alhamdulillah, masih ada orang baik ternyata.

Friday, July 12, 2019

Pengemudi Yang Inisiatif

Kalau sedang berkendara ojek daring, saya suka mengajak ngobrol pengemudinya. Hitung-hitung mengusir keheningan yang tercipta selama perjalanan. Alangkah sebuah keanehan dua orang yang terikat dalam sebuah perjalanan tidak ada komunikasi yang dibangun.

Namun kalau rasa malas sedang menghinggapi hati ini, saya memilih untuk diam sambil melihat-lihat pemandangan sekitarnya yang isinya itu-itu saja. Dan tahu-tahu saya sudah sampai di tujuan.

Berdasarkan data di lapangan, sebagaian besar percakapan terjadi atas inisiatif saya. Kalau saya tidak berinisiatif maka tidak ada percakapan. Dan sang pengemudi pun lebih baik fokus mengendarai sepeda motor supaya baik jalannya.

Khusus pekan lalu saya mendapati seorang pengemudi yang lain dari pada yang lain. Ketika pantat ini dihempaskan ke jok motor, saya memilih untuk diam. Terlalu lama di bis membuat selera ngobrol saya hilang. Tanpa diduga ketika gas pertama keluar sang pengemudi bertanya-tanya kepada saya. Pertanyaan yang biasa saya tanyakan kepada para pengemudi (ini bukan karma ya hehe). Dia menanyakan kerja dimana, kalau pulang kerja jam berapa, berangkat kerja jam berapa dan lain sebagainya. Sepanjang perjalanan dia yang lebih berinisiatif membuka percakapan. Sebagai penumpang yang baik saya pun menjawab semua pertanyaannya. Beberapa meter sebelum mencapai tujuan, saya ambil giliran untuk bertanya.

"Bapak ini full di gojek atau sampingan?"
"Sampiingan Pak."
"Sehari-hari kerja di mana?"
"Di Kawan Lama. Jadi pelayan!"
"Pantas," kata saya dalam hati. Profesi resmi dia menjawab mengapa dia banyak bertanya. Ternyata dia biasa menghadapi dan menggali kebutuhan pelanggan.

Saturday, July 6, 2019

Apa Tujuannya?


Memberikan perintah memang ada seninya tersendiri. Terkadang perintah yang diberikan harus memperhatikan kemampuan anak buah.

Ada sebuah kisah di sebuah perusahaan. Perusahaan tersebut baru membeli mesin baru. Sang atasan memanggil bagian maintenance untuk memeriksa fungsi mesin yang baru dibeli. Apakah mesinnya bisa berfungsi dengan baik sesuai dengan peruntukannya.

Bawahannya di maintenance ini langsung melaksanakan perintahnya. Mesin ini rencananya akan digunakan untuk mengisi (filling) hasil proses ke dalam wadah packaging primer. Hasil pemeriksaan mesin tersebut kurang presisi untuk pengisiannya. Lostnya terlalu besar. Kalau dipakai di kemudian hari akan memberikan kerugian. Setelah selesai, dia langsung melaporkannya ke atasannya : mesin ini tidak berfungsi dengan baik untuk peruntukannya.

Selanjutnya sang atasan menginstruksikan tugas baru. Tugasnya adalah untuk memeriksa safety dari mesin. Tugas ini pun langsung dikerjakan dengan baik. Hasilnya adalah mesin tersebut tidak safe. Di bagian tertentu ada yang "nyetrum". Ini bisa membahayakan operator yang mengoperasikan mesin ini nantinya.

Sang atasan manggut-manggut mendengarkan laporannya. Setelah itu dia langsung ngomong:
"Sebenarnya, saya ingin tahu apakah mesin ini kayak diterima dan dibayar. Jadi kamu tidak hanya bilang mesin ini begini atau begitu"

"Bapak enggak ngomong dari awal sih."Sang bawahan membalasnya. Maksudnya adalah sang atasan tidak pernah menjelaskan tujuan semua perintah yang dilakukan. Dia hanya memberikan instruksi-instruksi yang terpisah.

Setelah itu sang anak buah langsung melakukan beberapa tindakan yang dibutuhkan untuk keperluan ini. Beberapa hari kemudian dia datang melaporkan kembali. Hasil laporannya merekomendasikan bahwa mesin ini tidak bisa diterima; harus dikembalikan ke produsennya. Di laporannya, ada beberapa hasil pemeriksaan parameter yang mendukung rekomendasinya. Atasannya tersenyum puas. 
"Makanya lain kali kalau kasih perintah jelaskan dulu apa tujuannya. Jangan main perintah-perintah aja."Ternyata bawahannya masih menyimpan "rasa" itu.

Atasannya malah tertawa mendengar komentar bawahannya, sekaligus menyadari kekeliruannya dalam memberikan perintah.

sumber gambar : Geralt

Thursday, July 4, 2019

Cerita Bagian Dua

Orang yang disebut sebagai saudara kembaranya, sebenarnya tidak layak untuk dipanggil begitu. Aji, rambutnya lurus, dipotong pendek dan selalu rapih belah pinggir sebelah kanan. Sedang orang ini berambut ikal, ke sana kemari mengikuti gerakannya yang tidak mau diam. Jadi mereka berdua adalah saudara kembar beda bapak beda ibu dan beda kelakuannya. Yang membuat layak dipanggil bersaudara hanya semata-mata namanya sama. Orang itu bernama Aji juga. Tepatnya Sangaji. Untuk memudahkan dan tidak tertukar, biasanya teman-teman memanggilnya Aji Samiaji dan Aji Sangaji.

Aji Samiaji hanya mengamati tingkah laku temannya yang satu ini. Dia tidak sudi untuk bergabung dengan orang-orang untuk menyambut dan mengelu-elukan. Karena dia tahu Aji Sangaji akan datang menemuinya.

"Eh, mana kembaran gua? Dia datang kan?"Tanya sambil gelagapan. Pandangannya menyapu seluruh penjuru ruangan, Matanya berkeliaran mencari Aji Samiaji."Nah itu dia."Akhirnya dia menemukannya. Dan langsung dia menuju meja dimana Aji Samiaji berada.

"Hallooo....gimana kabarnya Bro?"Sapanya sambil mengangkat kedua lengannya tinggi-tinggi siap untuk memeluk siapa pun yang di depannya.

"Baik."Dibalasnya cukup dengan sebuah jabat tangan yang erat. Aji Sangaji mengguncang-guncangkan tanpa mau buru-buru melepaskannya. Setelah dirasa cukup puas, dilepaskan tangan kawannya ini dan langsung duduk berhadapan.

"Gimana Bro? Lu dah jadi direktur?"Tanyanya langsung.
Aji Samiaji hanya tersenyum.
"Sama gua juga belum jadi apa-apa. Eh, Lu masih di tempat yang lama?"
"Iya."
"Betah amat."
"Ya. Habis gimana lagi. Mau pindah kemana."
Aji Sangaji hanya mengangguk-angguk tanpa kata-kata.
"Gimana Ibu Lu?"
"Ya begitu deh." Jawabnya datar.
Untuk beberapa waktu dan tempat berhenti sejenak.
"Sorry Ji. Gua enggak bermaksud begitu sama Lu."
"Enggak apa-apa. Gua tahu kok."
"Thanks Brother", Aji Sangaji menarik nafas pelan."Gua tahu Lu orang yang kuat."Tangannya memegang erat pundak Aji Samiaji.
"Makasih. Gimana kerjaan Lu? Dah pindah lag?"
"Ha ha ha ha ha. Iya!"

Wednesday, July 3, 2019

Cerita Bagian Satu


Sedari sore rumah makan khas sunda di jalan utama kota Bekasi sudah dipenuhi orang. Selepas maghrib semakin banyak yang datang. Malam ini adalah acara halal bi halal SMA 300 Bekasi angkatan 97. Acara halal bi halal rasa reuni dipenuhi dengan obrolan yang ramai. Sesekali gelak tawa terdengar. Para undangan ini sedang mengulangi memori suka suka dan dukanya waktu masih berseragam putih abu-abu.

Salah satu peserta ini adalah bernama Samiaji. Berbeda dengan teman- temannya dia memilih untuk berdiam di sebuah sudut yang terhalang tiang bangunan. Tangannya asyik memijit- mijit layar gawainya. Sesekali dia melambaikan tangan menjawab setiap sapaan temannya sambil tidak lupa tersenyum. Setelah itu dia kembali ke aktivitas semula. Sudah cukup lama, Aji, panggilan Samiaji berkomunikasi melalui What's App dengan istrinya di rumah.

Ayah sudah sampai di tempat.
Ibu sedang apa?

Ibu sedang baringan.
Seharian ini capek menemani anak-anak main.

Ibu bagaimana?

Ibu? Tadi agak susah makannya. Mau nunggu ayah pulang. Harus dibujuk dulu baru mau makan. Tadi habis isya sudah tidur.

Aji, menghela nafas dalam-dalam. Matanya menatap dalam-dalam tulisan istrinya.

Makasih ya Bu?
Sudah jadi ibu yang baik. Sudah jadi anak yang baik.
I love You.

Love you too.

Aji menyudahi percakapannya dengan sang istri. Dalam hidupnya pesan istrinya adalah pesan yang paling penting sedunia. Tidak peduli sedang rapat dengan atasannya; bahkan mungkin dengan presiden kalau ada pesan atau panggilan telefon dari istrinya pasti akan diangkatnya.

“Ji!” Seseorang memanggilnya. Aji mencari sumber suara. Suara tersebut dari dari Sri, sang bendahara kelas pada zaman sekolah dulu.”Tuh kembaran Lu datang.”Katanya sambil menunjuk seseorang yang baru datang. Sepertinya dia adalah orang yang paling terakhir datang di acara ini.
Mata Aji tertuju pada seorang pria. Semua orang memandangnya. Dia sapa semuanya. Tidak lupa senyumnya yang manis mengembang di mulutnya.