Showing posts with label enggak perlu pake kategori. Show all posts
Showing posts with label enggak perlu pake kategori. Show all posts
Tuesday, February 18, 2020
Main Unyil-Unyilan
main unyil-unyilan adalah sebuah permainan yang paling "menyedihkan" yang pernah ada. Mengapa bisa begitu "menyedihkan"? Karena main unyil-unyilan adalah permainan yang meniru serial anak Si Unyil yang ada di televisi. Dimana serial anak Si Unyil itu merupakan meniru kehidupan anak-anak Indonesia pada umumnya. Jadi kita meniru kita.
Ketika serial Unyil meniru kita, anak-anak Indonesia, mereka tidak bisa meniru 100 persen tepat. Boneka Unyil dan kawan-kawan memiliki "kekurangan" berupa lengannya yang dibilang cukup pendek untuk disebut lengan. Jadi dalam beberapa gerakannya, boneka-boneka ini tidak sempurna mengikuti kita (La namanya juga boneka hehe). Nah parahnya kita menirunya pula. Benar-benar sebuah proses membuat realitas baru.
sumber gambar : Takahiro Taguchi
Monday, August 19, 2019
Makanan Yang Paling Enak
Sewaktu menjadi mahasiswa, saya pernah tinggal di asrama. Berbagi kamar dan tempat dengan teman-teman berbagai daerah dan jurusan dengan merasakan senasib sepenanggungan. Sebagian dari kami memilih asrama dikarenakan mengontrak atau menyewa kamar kost terlalu mainstream pada waktu itu (baca terlalu mahal untuk kantong kami).
Namanya kesusahan, dalam masalah makanan kami hanya mengenal dua jenis makanan. Makanan yang enak dan enak sekali. Tidak ada lagi. Jadi kalau ada teman yang bertanya apakah makanannya enak, pasti kami jawab enak sekali. Saat itu bagi kami sudah bisa makan teratur saja sudah sebuah keberuntungan.
Seiring dengan berjalannya waktu, kami sudah merampungkan pendidikan kami di kampus dan mendapatkan penghasilan sebagai pekerja atau wiraswasta. Kondisi perekonimian mulai membaik. Kembali ke soal makanan, dulu yang tema perjuangan bagaimana bisa makan setiap hari, bergeser mejadi makan tiga kali sehari. Dari yang makan tiga kali sehari menjadi makan yang enak-enak.
Namanya kesusahan, dalam masalah makanan kami hanya mengenal dua jenis makanan. Makanan yang enak dan enak sekali. Tidak ada lagi. Jadi kalau ada teman yang bertanya apakah makanannya enak, pasti kami jawab enak sekali. Saat itu bagi kami sudah bisa makan teratur saja sudah sebuah keberuntungan.
Seiring dengan berjalannya waktu, kami sudah merampungkan pendidikan kami di kampus dan mendapatkan penghasilan sebagai pekerja atau wiraswasta. Kondisi perekonimian mulai membaik. Kembali ke soal makanan, dulu yang tema perjuangan bagaimana bisa makan setiap hari, bergeser mejadi makan tiga kali sehari. Dari yang makan tiga kali sehari menjadi makan yang enak-enak.
Mensyukuri Hidup
Setiap aku memikirkan kesusahan hidupku, buru-buru aku mengingat bahwa masih ada orang yang lebih susah dibandingkan aku. Kata-kata Lao Tse teringang - ngiang di kepala. "Aku sedih tidak mempunyai sepatu baru, tetapi kesedihanku hilang ketika melihat orang tidak memiliki kaki."
Dan aku mulai menerima kesusahan yang aku alami ini. Anggaplah ia sarana buat kamu untuk mensyukuri apa-apa yang sudah dipegang.
Di sini bukan kesusahannya yang berkurang, tetapi bagaimana kamu memandang kesusahan itu. Pada waktu pertama kamu memandang dari atas, maka kamu merasa menjadi orang tersusah sedunia. Ketika memandang dari bawah, maka kamu merasa masih beruntung dibandingkan yang lain. Di sini kita belajar untuk mensyukuri hidup.
Dan aku mulai menerima kesusahan yang aku alami ini. Anggaplah ia sarana buat kamu untuk mensyukuri apa-apa yang sudah dipegang.
Di sini bukan kesusahannya yang berkurang, tetapi bagaimana kamu memandang kesusahan itu. Pada waktu pertama kamu memandang dari atas, maka kamu merasa menjadi orang tersusah sedunia. Ketika memandang dari bawah, maka kamu merasa masih beruntung dibandingkan yang lain. Di sini kita belajar untuk mensyukuri hidup.
Menjalani Hidup
Terkadang hidup itu (tinggal) hanya menjalani. Di sini tidak diperlukan kecerdasan kamu untuk menentukan jalan mana yang mau dipilih. Di sini sudah terbentang satu-satunya jalan yang kamu harus lalui. Ya benar kamu tidak ada pilihan.
Dan permasalahannya adalah bukan jalan mana yang kamu pilih, tapi bagaimana kamu menjalaninya.
Dan permasalahannya adalah bukan jalan mana yang kamu pilih, tapi bagaimana kamu menjalaninya.
Monday, April 22, 2019
Lampu-lampu yang Tidak Pernah Padam
oleh : hasan abadi kamil
Indonesia sedang dilanda krisis listrik sekarang. Cerita pemadaman bergilir sudah hal yang biasa. Termasuk di daerah Kebon Nanas Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.
Pemadaman bahkan bisa terjadi tiga kali dalam sebulan. Dan sekalinya pemadaman biasanya makan waktu berjam-jam. Namun beberapa ratus meter berjalan, ada dua titik yang jarang sekali mengalami pemadaman : perumahan sekretariat negara dan bona sarana indah.
"Wah, kalo sekneg ama bona mah jarang banget mati." Begitu kata Bang Usup, yang setiap malam mangkal dekat SDN Panunggan Utara 9 berjualan nasi uduk.
Pendapat Bang Usup ini pun diamini oleh orang-orang di sekitarnya.
"Kalo sekneg mati, kita nyala?" Tanya seorang pembeli.
"Enggak. Kalau sekneg mati, kita lebih parah lagi." Jawab Bang Usup.
Entah kenapa hal ini bisa berbeda, namun rumor yang beredar di masyarakat sekitar, perumahan sekneg dan bona sarana indah itu ada orang PLN-nya. Tentu rumor ini harus dibuktikan kebenarannya. Namun yang pasti karena setiap orang yang punya listrik bayar ke PLN, harusnya tidak boleh ada perbedaan jatah pemadaman, dengan alasan apa pun. Kecuali kalau memang listrik punya bapak moyang-nya orang-orang itu.
sumber gambar : pixabay
pernah dimuat di sini
Thursday, April 4, 2019
Enak!
Saya suka gelagepan, kalau ditanya soal makanan. Makanannya enak atau tidak?
Selama kuliah saya pernah tinggal di asrama mahasiswa. Sebuah tempat yang sebagian besar penghuninya adalah mereka yang tidak mampu membayar kost di luaran sana. Dan sebagian mereka belum tentu bisa makan tiga kali setiap harinya. Jadi sudah bisa makan saja sudah sebuah kenikmatan hidup. Karena bagi mereka di dua ini hanya ada dua jenis makanan : enak dan enak sekali.
Jadi tahu dong jawaban saya : Enak!
Selama kuliah saya pernah tinggal di asrama mahasiswa. Sebuah tempat yang sebagian besar penghuninya adalah mereka yang tidak mampu membayar kost di luaran sana. Dan sebagian mereka belum tentu bisa makan tiga kali setiap harinya. Jadi sudah bisa makan saja sudah sebuah kenikmatan hidup. Karena bagi mereka di dua ini hanya ada dua jenis makanan : enak dan enak sekali.
Jadi tahu dong jawaban saya : Enak!
Saturday, November 24, 2018
Gw Gak Peduli Kalo Lo Temen Maen Golf-nya SBY
Hi! Saya adalah Hasan Abadi Kamil. Di jagat social media ini, saya hanya ingin berteman dan mengenal kamu lebih dalam. Karena kamu baik dan ada sesuatu yang bisa dibagi. Tidak lebih dari itu.Tidak ada urusannya dengan pekerjaan dan usaha saya.
Saya tidak peduli, seberapa keren kamu, berapa banyak uang yang kamu punya (saya tidak pura - pura terkejut bahwa kamu milyader no 12 di dunia), semoncer apa karir kamu, seberapa pengaruhnya kamu,
seberapa dekat kamu dengan rock star yang ingin saya mintakan tanda tangannya. Saya hanya ingin kenal kamu dan berteman karena kamu baik. Titik.
Habis baca sebagian buku "delivering happiness".
Saya tidak peduli, seberapa keren kamu, berapa banyak uang yang kamu punya (saya tidak pura - pura terkejut bahwa kamu milyader no 12 di dunia), semoncer apa karir kamu, seberapa pengaruhnya kamu,
seberapa dekat kamu dengan rock star yang ingin saya mintakan tanda tangannya. Saya hanya ingin kenal kamu dan berteman karena kamu baik. Titik.
Habis baca sebagian buku "delivering happiness".
HOBINYA APA?
oleh : hasan abadi kamil
Seumur - umur selama saya bekerja ada dua orang yang berbeda yang tidak saling kenal, di waktu berbeda, mengajukan pertanyaan yang sama : Mas Hasan hobinya apa?
Diberi pertanyaan semacam itu saya terdiam; tidak bisa menjawab. Saya hobinya apa ya? Malah saya balik tanya dalam hati.
Kalau hobi didefinisikan secara bebas adalah kegiatan untuk mengisi waktu luang, maka saya tidak mempunyai hobi. Yang pasti waktu luang saya di akhir pekan lebih banyak dihabiskan bersama keluarga.
Seumur - umur selama saya bekerja ada dua orang yang berbeda yang tidak saling kenal, di waktu berbeda, mengajukan pertanyaan yang sama : Mas Hasan hobinya apa?
Diberi pertanyaan semacam itu saya terdiam; tidak bisa menjawab. Saya hobinya apa ya? Malah saya balik tanya dalam hati.
Kalau hobi didefinisikan secara bebas adalah kegiatan untuk mengisi waktu luang, maka saya tidak mempunyai hobi. Yang pasti waktu luang saya di akhir pekan lebih banyak dihabiskan bersama keluarga.
Ingin mengatakan hobi saya membaca, sekarang saya sudah jarang membaca buku. Ingin dibilang hobi menonton, saya juga sudah jarang menonton tivi. Aapalagi olahraga. Sudah berapa lama badan ini tidak gerak-gerak. Bagaimana kalau hobi makan? Masak makan dibilang hobi sih? Itu kan kebutuhan.
Sebenarnya kegiatan utama saya bermuara di tiga hal : kerja-kerja-kerja. Jadi bisa disimpulkan hobi saya adalah bekerja!
Dan menariknya kedua orang yang tidak saling kenal ini mempunyai hobi yang sama yaitu MEMANCING!
Sebenarnya kegiatan utama saya bermuara di tiga hal : kerja-kerja-kerja. Jadi bisa disimpulkan hobi saya adalah bekerja!
Dan menariknya kedua orang yang tidak saling kenal ini mempunyai hobi yang sama yaitu MEMANCING!
Sunday, September 16, 2018
Orang Kampung dan Kampungan
Pertama kali mendengar istilah "Orang Kampung" adalah ketika saya masih masih berusia Sekolah Dasar (SD). Bapak saya yang seorang guru, membuat kami hidup berpindah-pindah mengikuti pengabdiannya sebagai pengajar. Saya cukup banyak menghabiskan masa kecil di sebuah daerah di Kabupaten Bekasi. Sebuah daerah yang dikategorikan "Kampung", dimana masih banyak sawah ladang, tanah lapang dan sungai-sungai di sekeliling kami tinggal.
Hingga pada suatu saat datang para pengembang ke tempat kami. Meratakan semuanya dengan timbunan tanah dan batu-batu. Di atasnya berdiri deretan perumahan tipe 21, 36 dan 45: sebuah perumahan baru telah muncul. Plus dengan orang-orang pendatangnya.
Kebanyakan para penghuni adalah orang-orang pindahan dari luar kampung, terutama dari Jakarta. Kami mengenal mereka sebagai "Orang BTN". Sebutan yang disematkan karena pemilikan rumah mereka menggunakan jasa Kredit Pemilik Rumah (KPR) dari Bank Tabungan Nasional (BTN). Yang suka diplesetkan menjadi Beli Tapi Nyicil. Dan mereka menyebut kami sebagai "Orang Kampung".
Pada awalnya kata orang kampung adalah kata yang netral. Kata yang dimaksudkan untuk menyebut para penduduk asli; orang yang duluan tinggal; yang tinggal di luar kompleks perumahan. Namun kata ini menjadi tidak netral dan tidak enak kedengarannya ketika kata orang kampung dipenuhi dengan hal-hal yang jauh dari "peradaban orang kota". Susah diatur, jorok, tidak punya sopan satun, norak, tidak berpendidikan dan lain-lain. "Jangan maen sama orang kampung, nanti kamu bakalan bla bla bla". Mungkin kita pernah mendengar nasehat seorang ibu seperti ini kepada anaknya ketika pulang bermain.
Dan ternyata sampai saya berpindah-pindah kota karena tinggal dan bekerja, istilah orang kampung ini banyak juga pemakainya. Menjadi sebuah kata yang universal. Dan enggak enaknya itu karena dimaknai embel-embel di atas tadi. Alih-alih menyebut orang kampung, saya yang pernah tinggal di komplek perumahan sebuah kota mandiri di Cikarang, lebih suka menyebut para orang kampung tersebut dengan sebutan : "Orang Sini".
Dan terakhir di sebuah kolam renang untuk umum di bilangan Bandung Tengah, istri saya mendengar komentar yang menyebut anak-anak kampung ketika melihat sekelompok anak usia SD berenang dengan kulit yang legam, tidak memakai celana renang ikut berenang. Begitu mendengar itu, ingatan saya langsung melesat ke masa kecil saya. Dan jujur tulisan saya ini terpicu karena itu. Istri saya membalasnya dengan bergumam," ngaku orang kota, tapi pop mie ke anak batita". (memang waktu kejadiannya, si ibu muda itu sedang menyuapi anaknya yang masih kecil dengan pop mie. Ya Tuhan, hidup macam apa ini???).
Kalau ada istilah orang kampung kita juga mengenal istilah "Kampungan". Istilah kampungan ini, yang kita sepakati, tidak mengenal batasan geografis dan tempat tinggal. Karena dia merupakan sifat. Jadi tidak hanya orang kampung saja yang kampungan, orang kota juga banyak. Tidak hanya orang berpendidikan SD, orang sekolah tinggi-tinggi pun banyak. Banyak perilaku kampungan yang menjalari di kehidupan kita sehari-hari. Tidak mau antri, membuang sampah sembarangan, dan lain sebagainya.
Terakhir, sampai saat ini saya selalu menyebut saya orang kampung karena asal-usul saya. Dan saya tidak ada masalah dengan itu yang penting saya tidak kampungan.
Hingga pada suatu saat datang para pengembang ke tempat kami. Meratakan semuanya dengan timbunan tanah dan batu-batu. Di atasnya berdiri deretan perumahan tipe 21, 36 dan 45: sebuah perumahan baru telah muncul. Plus dengan orang-orang pendatangnya.
Kebanyakan para penghuni adalah orang-orang pindahan dari luar kampung, terutama dari Jakarta. Kami mengenal mereka sebagai "Orang BTN". Sebutan yang disematkan karena pemilikan rumah mereka menggunakan jasa Kredit Pemilik Rumah (KPR) dari Bank Tabungan Nasional (BTN). Yang suka diplesetkan menjadi Beli Tapi Nyicil. Dan mereka menyebut kami sebagai "Orang Kampung".
Pada awalnya kata orang kampung adalah kata yang netral. Kata yang dimaksudkan untuk menyebut para penduduk asli; orang yang duluan tinggal; yang tinggal di luar kompleks perumahan. Namun kata ini menjadi tidak netral dan tidak enak kedengarannya ketika kata orang kampung dipenuhi dengan hal-hal yang jauh dari "peradaban orang kota". Susah diatur, jorok, tidak punya sopan satun, norak, tidak berpendidikan dan lain-lain. "Jangan maen sama orang kampung, nanti kamu bakalan bla bla bla". Mungkin kita pernah mendengar nasehat seorang ibu seperti ini kepada anaknya ketika pulang bermain.
Dan ternyata sampai saya berpindah-pindah kota karena tinggal dan bekerja, istilah orang kampung ini banyak juga pemakainya. Menjadi sebuah kata yang universal. Dan enggak enaknya itu karena dimaknai embel-embel di atas tadi. Alih-alih menyebut orang kampung, saya yang pernah tinggal di komplek perumahan sebuah kota mandiri di Cikarang, lebih suka menyebut para orang kampung tersebut dengan sebutan : "Orang Sini".
Dan terakhir di sebuah kolam renang untuk umum di bilangan Bandung Tengah, istri saya mendengar komentar yang menyebut anak-anak kampung ketika melihat sekelompok anak usia SD berenang dengan kulit yang legam, tidak memakai celana renang ikut berenang. Begitu mendengar itu, ingatan saya langsung melesat ke masa kecil saya. Dan jujur tulisan saya ini terpicu karena itu. Istri saya membalasnya dengan bergumam," ngaku orang kota, tapi pop mie ke anak batita". (memang waktu kejadiannya, si ibu muda itu sedang menyuapi anaknya yang masih kecil dengan pop mie. Ya Tuhan, hidup macam apa ini???).
Kalau ada istilah orang kampung kita juga mengenal istilah "Kampungan". Istilah kampungan ini, yang kita sepakati, tidak mengenal batasan geografis dan tempat tinggal. Karena dia merupakan sifat. Jadi tidak hanya orang kampung saja yang kampungan, orang kota juga banyak. Tidak hanya orang berpendidikan SD, orang sekolah tinggi-tinggi pun banyak. Banyak perilaku kampungan yang menjalari di kehidupan kita sehari-hari. Tidak mau antri, membuang sampah sembarangan, dan lain sebagainya.
Terakhir, sampai saat ini saya selalu menyebut saya orang kampung karena asal-usul saya. Dan saya tidak ada masalah dengan itu yang penting saya tidak kampungan.
Subscribe to:
Posts (Atom)

