Monday, September 2, 2019
Warung di Posisi Tusuk Sate
Bagi yang mempercayai feng shui, biasanya menghindari membeli atau menyewa rumah atau bangunan yang berada di posisi tusuk sate. Posisi ini dimana bangunan terletak di tengah jalur pertigaan sebuah jalanan. Katanya bangunan di posisi tersebut tidak membawa keberuntungan atau malapetaka.
Di dekat kantor ada sebuah bangunan yang disewakan untuk berjualan. Biasanya digunakan sebagai warung makan. Entah kebetulan atau tidak, yang membuka usaha di situ tidak ada yang berjalan cukup lama. Paling lama tiga bulan. Habis itu tutup . Kosong beberapa bulan, diganti sama yang lain. Habis itu tutup lagi. "Tuh bener Kan, kalau di Tusuk sate enggak bakalan lama." Ada yang berkata seperti itu.
Thursday, August 22, 2019
Benci Mengucapkan Selamat Tinggal
Kenapa Engkau, tidak mau menemuiku?
Bukankah setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan?
Oleh karena itu aku semakin membencinya.
Simbolku, Simbolmu
Sekarang sedang heboh tentang pemotongan nisan berbentuk salib di daerah Yogyakarta. Saking hebohnya ada yang berpendapat bahwa daerah istimewa tersebut sudah tidak toleran lagi. Yang lucunya, yang heboh itu adalah orang-orang di luaran sana. Pihak keluarga almarhum sendiri sudah ikhlas atas kejadian tersebut. Pemotongan salib ini sebagai bentuk kesepakatan antara warga sekitar dengan keluarga. Kebetulan daerah tersebut hampir semuanya beragama Islam. Warga mengizinkan jenazah dimakamkan di sana dengan kesepakatan tidak membawa simbol-simbol agama.
Mengumpulkan "Receh" Agar Masuk Surga
Ketika Pak Prabowo gagal memenangkan pemilihan presiden yang kedua kalinya, ada suara-suara yang berusaha"menghibur" dirinya. Kalau mau mengabdikan diri kepada bangsa dan negara tidak harus menjadi seorang presiden. Bisa berkontribusi dengan cara yang lain. Sampai di sini saya setuju.
Sekarang kita kembalikan kepada kita sebagai ciptaan-Nya. Manusia dan jin diciptakan hanya untuk beribadah kepada Alloh SWT. Itulah misi kita di dunia ini.
Wednesday, August 21, 2019
Terpenjara Dalam Apartemen
Pada hari sabtu minggu pekan lalu, saya sempat merasakan menginap di sebuah apartemen di daerah Bandung Utara. Kegiatan ini bertepatan dengan acara kumpul-kumpul keluarga besar dari pihak istri.
Selama beraktivitas di sana, sempat terlintas dalam fikiran bahwa orang-orang yang tinggal di sana seperti "terperangkap" di dalamnya. Kenapa saya bisa berkesimpulan seperti itu? karena kami sempat tersesat di dalamnya. Ya benar-benar tersesat.
Keluarga besar menyewa dua unit di apartemen. Kamar di lantai 10 dan kamar di lantai 15. Setiap kamar memiliki kunci dan kartu akses kemana-mana. Saya mendapatkan jatah di kamar 15. Setelah saya beres-beres di kamar lantai 15, kami berniat ke kamar di lantai 10. Karena sebagian besar anggota keluarga berkumpul di sana. Antara lantai dihubungkan dengan sebuah lift. Dari lantai 15 kami naik lift turun ke bawah. Ketika memencet lantai 10 kami tidak berhasil. Berkali-kali kami pijit tombolnya dan menempelkan kartu aksesnya, lift tetap bergerak. Ketika lift berhenti di lantai 5, karena ada yang keluar di sana, kami ikut-ikutan keluar. Dan ternyata timbul masalah baru. Kami benar-benar tidak bisa kemana-mana. Di tengah kebingungan akhirnya kami memutuskan untuk lantai G (ground). Seorang penghuni apartemen mengajak kami ke lantai ground. Karena dia juga mau ke sana. Alhamdulillah, masih ada orang baik ternyata.
Subscribe to:
Posts (Atom)



