Wednesday, April 24, 2019

Berorganisasilah, Itu Lebih Baik!



Oleh : hasan abadi kamil

Salah satu saran dari Barack Obama untuk menghasilkan orang sekualitas dia, yang muda yang berkarya, ikutilah organisasi selama di bangku kuliah. Pesan ini juga yang disampaikan abang tertua saya ketika memasuki dunia kuliah. Kalau kuliah jangan Cuma belajar aja, begitu katanya.

Mengikuti organisasi di sini adalah dengan mendaftarkan diri di unit kegiatan kesenian, pendidikan, himpunan mahasiswa juruan/ departemen, keagamaan atau ekstrakulikuler lainnya. Mengikuti di sini juga berarti ikut dalam segala dinamika dan mencoba mendinamisasinya. Bukan hanya sekedar tercantum dalam kartu anggota atau numpang nokrong dan jadi ”jurig himpunan.”*

Dalam berorganisasi akan didapat soft skill, hal-hal yang tidak pernah didapatkan dari tebalnya buku teks dan atau mulut dosen. Walau pun mengambil kuliah Termodinamika sekali ambil**. Walau pun nilai kalkulus hatrick A***.

Soft skill itu meliputi cara mengemukakan ide, bekerja sama dengan orang yang berbeda ide dan latar belakang, menghadapi perbedaan dan lain sebagainya. Selain itu juga melatih membagi waktu dan konsentrasi. Ini akan terasa sekali ketika kita memasuki dunia luar kampus atau dunia kerja.

Beberapa kali saya mendapatkan anak buah dari sebuah sekolah kejuruan yang cukup terkenal di sebuah kota di provinsi Jawa Barat. Anak yang terbiasa berorganisasi biasanya lebih sabar, lebih luwes, lebih berinisiatif dan bisa mencapai sasaran kerja. Sehingga dalam perkembangan karir, kalau sebagai karyawan atau perkembangan usahanya kalau jadi wiraswasta lebih cepat bersinar walau pun kemampuannya biasa-biasa saja. Bisa jadi ini fakta yang bisa diperdebatkan, tapi itulah yang sering saya temui sehari-hari.

Note:
*Jurig himpunan secara harfiah adalah setan himpunan (Jurig = Setan. Sunda). Sebutan ini dialamtkan kepada anak-anak yang aktif di unit himpunan sampai-sampai makan minum main dan tidur di himpunan. Bukan berarti tidak punya rumah atau diusir dari rumahnya.
**Di departemen kimia ITB, kuliah termodinamika sempat jadi momok. Jarang sekali orang yang mengambil langsung lulus. Biasanya harus mengulang, bahkan sampai hattrick.
***Kalkulus terbagi menjadi tiga. Kalkulus 1, 2 dan 3. Waktu ngambil dapet nilai C, D dan E.

sumber gambar : pixabay
pernah dimuat di sini

Monday, April 22, 2019

Lampu-lampu yang Tidak Pernah Padam


oleh : hasan abadi kamil

Indonesia sedang dilanda krisis listrik sekarang. Cerita pemadaman bergilir sudah hal yang biasa. Termasuk di daerah Kebon Nanas Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.

Pemadaman bahkan bisa terjadi tiga kali dalam sebulan. Dan sekalinya pemadaman biasanya makan waktu berjam-jam. Namun beberapa ratus meter berjalan, ada dua titik yang jarang sekali mengalami pemadaman : perumahan sekretariat negara dan bona sarana indah.

"Wah, kalo sekneg ama bona mah jarang banget mati." Begitu kata Bang Usup, yang setiap malam mangkal dekat SDN Panunggan Utara 9 berjualan nasi uduk.
Pendapat Bang Usup ini pun diamini oleh orang-orang di sekitarnya.
"Kalo sekneg mati, kita nyala?" Tanya seorang pembeli.
"Enggak. Kalau sekneg mati, kita lebih parah lagi." Jawab Bang Usup.

Entah kenapa hal ini bisa berbeda, namun rumor yang beredar di masyarakat sekitar, perumahan sekneg dan bona sarana indah itu ada orang PLN-nya. Tentu rumor ini harus dibuktikan kebenarannya. Namun yang pasti karena setiap orang yang punya listrik bayar ke PLN, harusnya tidak boleh ada perbedaan jatah pemadaman, dengan alasan apa pun. Kecuali kalau memang listrik punya bapak moyang-nya orang-orang itu.

sumber gambar : pixabay
pernah dimuat di sini

Thursday, April 4, 2019

Enak!

Saya suka gelagepan, kalau ditanya soal makanan. Makanannya enak atau tidak?

Selama kuliah saya pernah tinggal di asrama mahasiswa. Sebuah tempat yang sebagian besar penghuninya adalah mereka yang tidak mampu membayar kost di luaran sana. Dan sebagian mereka belum tentu bisa makan tiga kali setiap harinya. Jadi sudah bisa makan saja sudah sebuah kenikmatan hidup. Karena bagi mereka di dua ini hanya ada dua jenis makanan : enak dan enak sekali.

Jadi tahu dong jawaban saya : Enak!

aku terlupakan zaman

tak apa-apa, 
aku terlupakan zaman, 
seperti sebutir pasir terbenam di hamparan pantai

aku yang tidak diingat
aku yang tidak disebut
aku yang tidak dicari
aku yang tidak dikunjungi

itulah aku

tak apa-apa

terlupakan waktu, bukan berarti aku tak ada


ketika mati datang

seperti hari yang mendung
berada di pojokkan
sendirian
dingin